Diberdayakan oleh Blogger.

instagram

Instagram

Label

Flag Counter

Total Tayangan Halaman

Translate

Senin, 20 Juli 2009

GURU SOMALAING PARDEDE


GURU SOMALAING PARDEDE dilahirkan di Huta Lumban Jabi-jabi Balige Raja pada tahun 1832, beliau adalah pomparan dari RJ.TOGA LAUT PARDEDE, yang sejak terjadinya perang Batak beliau telah berjuang pada jaman perjuangan RJ.SISINGAMAGARAJA XI dan XII dalam menentang masuknya penjajah/tentara Belanda ke tanah Batak, Pemerintah Belanda dalam perang 11 hari di Habinsaran dengan persenjataan lengkap pada tahun 1896 berhasil menangkap Guru Somalaing Pardede dan diasingkan ke Pulau Jawa,

Pada masa mudanya Gr.Somalaing Pardede di dalam era perjuangan Rj. Sisingamangaraja XI beliau menjabat sebagai Menteri Penerangan merangkap Panglima Perang (1857) yang pada waktu itu mulailah berdatangan bangsa asing yang disebut “si bontar mata” dengan berbagai maksud terutama ingin berjumpa dengan Rj. Sisingamangaraja XI antara lain : H.N.Van der Tuuk dan Dr.Frans Junghun, akan tetapi karena Rj.Sisingamangaraja XI tidak bersedia maka Gr.Somalaing lah yang diutus untuk menemui dan menemaninya, kemudian pada tahun 1862 seoerang pendeta dari Zending Barmen Dr.I.L.Nommensen juga telah pernah bertemu dengan Gr.Somalaing dan berkat penjelasan yang dapat diterima dan bukan untuk menjajah tanah Batak dan disamping faham yang dibawakan Nommensen tidak bertentangan dengan faham mensianistis, kemudian dilihat kebangsaan Nommensen berasal dari Jerman maka dianya dapat bertemu dengan Rj.Sisingamangaraja XI dan menhadiahkan seekor kuda putih, imbalan yang diterima Nommensen subuah “tahul-tahul” atau tempat air minum terbuat dari kayu warna coklat.

Begitu juga kedatangan 2 orang tamu dari Arab bernama : Mhd Thoib dan ABD.Asan Aqda (1863) melalui hubungan dengan Gr.Somalaing telah pernah bertemu dengan Rj.Sisingamangaraja XI, mereka memberikan kenang-kenangan berupa sebilah pedang dan manik-manik,sememntara imbalannya diberikan “tahul-tahul” dan kemenyan.

Dari hubungan ini dapatlah dinyatakan bahwa suku Batak telah lama berhubungan dengan bangsa asing, terutama bagi Gr.Somalaing Pardede telah mulai mantap dengan berbagai bahasa asing apalagi jika dikaitkan lagi pada pergaulannya dengan seorang bangsa Roma bernama Modigliani yang tahu berbagai bahasa dan berbagai sejarah kebangsaan.

Perang Padri yang dicampuri Pemerintah Hindia hinga meluas ke daerah-daerah, daerah Mandailing (Tapsel) kemudian ke daerah Batak (Taput) dengan jalan memerangi padri-padri memasuki daerah-daerah Batak hingga menimbulkan gangguan keamanan terutama bagi faham masianistia dengan suatu paksaan mengakibatkan timbulnya perpecahan-perpecahan bagi suku batak.

Tindakan penjajah Belanda didalam memecah belah suku menimbulkan amarah yang tak terhingga bagi pengerak masianistis, terutama Gr.Somalaing sebagai tokoh utama pada faham masianistis terpaksa menyusun barisan dalam menentang penjajahan Belanda.

Pada tahun 1863 Gr.Somalaing berserta pasukannya mulai melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda, yang pertama di daerah Humbang hingga kedaerah Toba lewat pertempuran sengit di Tarabunga Balige.

Wafatnya Rj.Sisingamangaraja XI dengan mengalihkan kekuasaan kepada Omp.PULO BATU SINAMBELA menjadi Rj.Sisingamangaraja XII pada tahun 1864 yang dikukuhkan di Lumban Jabi-jabi Balige Raja lewat pencabutan pedang “Gaja Dompak” sebagai syarat apakah bisa atau tidak, dan

jika bisa dicabut pedang tersebut dari sarungnya maka dianyan berhak untuk mengantikan kedudukan sebagai Rj.Sisingamangaraja XII, dan hal ini Omp.Pulo Batu dapat melakukannya dengan mudah.

Acara pengukuhan secara adat Batak yang dipimpin oleh Gr.Somaliang dengan didampingi Raja-raja bius Si bagotni pohan dan tidak ketinggalan Omp.TOGA MARTAHAN SILALAI selaku tokoh ke dua penggerak masianistis. (lihat pada buku beschikking Controleur van Toba hal.126 secara kollektif, disebut kampung Lumban Jabi-jabi Balige Raja/Kampung marga Pardede Toga Laut tempat dikukuhkannya Omp.Pulo Batu Sinambela menjadi Rj.Sisingamagaraja XII).

Terpilihnya Omp.Pulo Batu Sinambela menjadi Raja Sisingamangaraja XII sekaligus menyusun departemennya yang pada waktu itu Gr.Samalaing diangkat menjadi Menteri Penerangan merangkap Panglima Perang dibantu oleh Omp.Jumollang Tampubolon berkuasa di Toba Hasundutan sampai daerah Humbang, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh masianistis yang diangkat menjadi Menteri yang berkuasa di berbagai daerah.

Berhubungan dengan semakin pesatnya perkembangan usaha-usaha pemerintah Belanda untuk perlombahan-perlombahan dalam pemerintahan di desa-desa, paja, rodi, dll semakin menekan rakyat sehingga meninbulkan memuncaknya amarah bagi Gr.Somalaing, ini di buktikan dengan perang di Lumban Gorat Balige sehingga tentara Belanda morat-marit dan melarikan diri kearah Humbang lewat Pegunungan.

Kegigihan Tentera Batak dalam mempertahankan Tanah Batak walaupun sejengkal tidak diperbolehkan untuk dijajah pemerintah Belanda, hal ini pemerintah Belanda terpaksa mengajukan perdamaian terhadap Rj.Sisingamangaraja XII (1865) sehingga Rj.Sisingamangaraja memanggil seluruh menteri-menterinya untuk mengadakan “ria” (musyawarah) hasil Musyawarah menerima diadakannya perundingan, waktu itu utusan pihak pemerintah Belanda dipimpin oleh Kapten Loi Van Dalem, namun karena hasil perundingan yang sifatnya menyebelah dan diangap merupakan penekanan maka dengan tegas perdamaian yang hanya menguntungkan pihak pemerintah Belanda ditolak mentah-mentah.

Kapten Loi Van Dalem selaku utusan Brigader Jendral Van Heutz yang berkedudukan di Aceh merasa tersinggung akibat tolakan perdamaian dari tokoh-tokoh masianistis tersebut terpaksa mengirimkan tentara dari Aceh langsung dikomando Kapten Loi Van Dalem untuk memerangi orang Batak yang tidak tunduk kepada Pemerintah Hindia Belanda .

Pasukan Hindia Belanda yang digerakkan dari Aceh itu, mendapat perlawanan ditengah perjalanan oleh pejuang-pejuang dari Aceh, oleh Panglima Polin dari Aceh sengaja mengirim kurirnya Panglima Muhammad Daut ke tanah Batak untuk memberi tahukan adanya pasukan Belanda bergerak menuju tanah Batak, Palingma Muhammad Daut yang dikenal sebagai ahli misiu disamping sebagai kurir juga ditugaskan mendmpingi tentara Batak yang di Pimpin Gr.Somalaing, perperangan terjadi dengan tekat bagi tentara Batak yang bersemboyan “tumagon mate unang pado dijajahsibontar mata” yang pengertiannya lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup dijajah Belanda bermata putih, semboyan ini meningkatkan semangat juang bagi tentara Batak, tepatnya pada Tgl.11 Juni1865 terjadi perperangan sengit di Desa Silangit hingga tentara Belanda dapat dipukul mundur dan tidak sedikit kerugian yang dialaminya, menurut buku G.A.Wilken menyatakan bahwa tentara Belanda yang pertama sekali perang terbesar dihadapi.

Kolonial Belanda melihat pasukannya dapat dipukul mundur tentara Batak mengakibatkan terpusatnya perhatian Brigadir Jendral Van Heutz ke tanah Batak tentang bagaimana rupanya kegarangan tentara Batak itu, hal ini kembali digerakkannya tentara Belanda secara besar-besaran yang dipimpin oleh Kapten Turman CO dengan dibantu Letnan Satu Johansen dan Letnan Dua Cherman Jacob.

Sementara tentara Batak setelah mendengar informasi gerakan pasukan Belanda secara besar-besaran maka Gr.Somaliaing terpaksa mendatangkan bantuan dari Aceh dan Padang, masing-masing bala bantuan dari Aceh dipimpin oleh Panglima Abu Raksa Muda, dan bantuan dari Padang dipimpin oleh Panglima Sutan Khadir Hamjah.

Pada tanggal 23 September 1865 terjadi perperangan di tiga penjuru antara lain, di Silangit, di Lumban Julu, dan di Habinsaran, perperangan besar ini mengambil banyak korban di kedua belah pihak, dimana dari pihak tentara Belanda Letnan Cherman Jacob tewas pada pertempuran di Lumban Julu, sedangkan dari pihak pasukan tentara Batak Japallongos selaku pembantu Gr.Somalaing ikut tewas, dan Omp Jumollang Tampubolon pembantu Panglima Omp.Toga Martahan dapat ditangkap dan dieksekusi di Balige.

Letnan Johansen yang pernah menjadi wakil Kapten Tack di Kartasura dengan pengalamannya di Jawa itu memperbuat suatu taktik busuk mengajukan suatu perundingan kepada Gr.Somalaing dengan menyodorkan pangkat untuk diangkat sebagai Raja Jaihutan berkuasa di Toba Holbung, hal ini dengan tegas ditolak Gr.Somalaing karena jika diterima kedudukan itu hal ini dianggap perbuatan ini adalah suatu penghianatan yang tidak dapat diampuni, apa lagi perjuangan Tentara Batak langsung digerakkan Gr.Somalaing selaku tokoh masianistis.

Suatu kejutan bagaikan Guntur disiang bolong, Pemerintah Belanda dengan taktik liciknya mengadakan perpecahan dan mengadu domba tokoh-tokoh Batak dengan jalan mengangkat beberapa Orang yang berpengaruh dari suku Batak menjadi Raja Jaihutan, diantaranya termasuk adik kandung Gr.Somalaing (lihat beschikking Cotroleur van Toba no.126/1894. secara kollektif) hal ini adalah suatu pukulan bagi Gr.Somalaing mengingat tawaran itu disodorkan kepada adiknya dan diterimah, ini secara jelas untuk memerangi perjuangan Abang kandungnya selaku tokoh penggerak masianistis, inilah yang menjadi kejutan bagi dirinya.

Bukan hanya disini saja, akan tetapi yang paling menyakitkan lagi adalah terjadinya penganiayaan saudara-saudara turunan Rj.Toga Laut dan penguasaan kampung lumban jabi-Jabi selaku kampung kelahiran Gr.Somalaing, sehingga dengan segera Gr.Somalaing terpaksa mengumpul kan tokoh-tokoh suku batak khususnya Raja-raja bius Sibagot ni pohan untuk mengadakan “ria” atau musyawarah disuatu tempat ditepi pantai Danau Toba, yang hasil ria melahirkan suatu janji dengan tekat terus perang melawan penjajah walaupun siapa orangnya.(tempat melaksanakan musyawarah tersebut namanya dijadikan menjadi “Janjimaria”, sampai kini nama kampung itu tetap masi ada di Balige).

Hasutan-hasutan Belanda terhadap suku Batak menimbulkan terjepitnya gerakan tentara Batak yang dipimpin Gr.Somalaing, apa lagi penghianat-penghianatpun bertambah banyak sehingga dengan waktu 15 hari berperang, antara lain, 4 hari perang di Lumban Julu dan 11 hari Perang di Habinsaran, mengakibatkan banyaknya korban dari pasukan Batak dan masyarakat, terutama Panglima Muhammad Daut, Panglima Sutan Khadir Hamjah, Raja Si jorat, Parringis Tambunan, Raja Gontam Naipospos, Sarbut Mataniari, Omp. Holbung Manurung, Liap Sirait, dan banyak lagi tokoh-tokoh masianistis yang tidak disebutkan namanya tewas pada perang 15 hari itu, sementara itu yang dapat dibekuk atau ditangkap adalah : Gr.Somalaing Pardede diasingkan ke pulau Jawa, Panglima Abu Raksa Muda diasingkan ke Pulau Jawa, Omp. Toga Martahan Diasingkan ke pulau Nias, Pallat Simanjuntak diasingkan ke pulau Nias, Omp. Sondang Pardede Diasingkan ke ? namun menurut informasi yang diperoleh dari Letnan Herman Lodewik di Sibolga menyatakan dianya diasingkan ke Suriname, dan banyak lagi yang diasingkan ke berbagai daerah kepulauan di Indonesia ini.

Berhasilnya Gr.Somalaing dan kawan-kawannya di lumpuhkan pihak tentara Belanda, hal ini bukanlah menjadi berahirnya perjuangan dari pejuang suku Batak, apa lagi sewaktu diasingkan Gr.Somalaing lewat pelabuhan Sibolga dianya masi sempat berpesan kepada pemuda-pemuda suku Batak, dan pesan itu dapat dibuktikan dengan adanya gerakan-gerakan pemuda-pemuda Batak yang dipimpin, ABD.HALIM PARDEDE juga turunan saudara Gr.Somalaing pomparan Rj.Toga Laut Pardede, UMAR SIMANJUNTAK dari Parsuratan, SAUL SIAHAAN dari Lb.Gorat, HEMOS SIRAIT dan AMAN TIMBUL MANURUNG dari Porsea, LONGGA HUTA JULU dari Laguboti, PONGGUK SITUMORANG dari Lontuk Samosir, dan banyak lagi yang tak disebut nama-namanya yang ikut berjuang melawan penjajah Belanda dalam melanjutkan perjuangan Gr.Somalaing.

Dilain pihak setelah terkangkapnya Gr.Somalaing Pardede dan Kawan-kawan di Toba Holbung maka tentara Belanda kembali melakukan penyerangan terhadap pasukan Rj.Sisingamangaraja XII di Humbang, Namun serangan tentara Belanda itu dapat di lumpuhkan dengan kerugian yang sangat besar dipihak Belanda, dimana Komandan tentara Belanda yaitu Kapten Loi Van Dalem tewas ditangan Panglima Tuan Bosar Siregar dari Sipirok selaku pembantu dan kepercayaan Rj.Sisingamangaraja XII.

Melihat kejadian ini Brigadir Jendral Van Heutz sangat marah dengan tekat Rj.Sisingamangaraja XII harus dapat di tangkap hidup maupun mati, sehingga sengaja memanggil dan memerintahkan Kapten Ckristovel (terkenal seorang pewira Belanda yang paling kejam) untuk memimpin suatu pasukan tentara Belanda yang paling besar.

Serangan tentara Belanda terhadap Pasukan Rj. Sisingamangaraja XII adalah suatu taktik untuk mempersempit gerak juang tentara Batak, hal ini nyata sekali, karena pasukan Batak yang di pimpin langsung oleh Rj.Sisingamangaraja XII terpaksa mundur ke daerah perbatasan Humbang dengan Dairi sidikalang.

Taktik yang telah terencana dan diprogramkan lebih dahulu itu dapat di buktikan Kapten Ckristovel, karena menurutnya untuk menangkap hidup atau mati Rj.Sisingamangaraja XII adalah lebih dahulu menguasai keluarganya Rj.Sisingamangaraja XII, dan secara kejam, setelah dapat ditangkapnya putra-putri yang paling disayangi Rj.Sisingamangaraja XII antara lain, PATUAN NAGARI, PATUAN ANGGI, dan putrinya LOPIAN, secara langsung tangan Ckristovel membunuhnya.

Melihat situasi tersebut Rj. Sisingamangaraja XII sangat bersedih, sewaktu melihat dan memeluk anaknya satu-persatu, kesempatan inilah Kapten Ckristovel membidikan senjatanya untuk membunuh Rj. Sisingamagaraja XII untuk membunuh Rj. Sisingamangaraja XII, Gugurnya Rj.Sisingamangaraja XII (1907) pasukan Kapten Ckristovel langsung membawa mayat Rj. Sisingamagaraja dan 2 putranya ke Balige dan dimakamkan di Tarutung, kemudian dipindahkan lagi ke Soposurung Balige.

Demikian sejarah ringkas perjuangan Gr.Somalaing Pardede yang menurut masyarakat Tapanuli Utara Khususnya Raja Sonakmalela wajarlah bagi Pejuang Gr.Somalaing dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Sumber : Oloan Pardede